Banda Aceh – Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh kembali menggelar Safari Dakwah (Safda) Malam Ahad di Meunasah Tuha Gampong Ie Masen, Banda Aceh, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Tgk. Safaini, MA sebagai penceramah. Tausiyah tersebut dihadiri para jamaah serta perangkat gampong setempat.
Dalam tausiyahnya, Tgk. Safaini mengajak jamaah untuk menyeimbangkan tiga ilmu pokok dalam Islam. Ia menekankan bahwa selain ilmu tauhid dan fiqh, umat harus sungguh-sungguh mendalami ilmu tazkiyatun nafs.
“Ilmu itu ada 3: Ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan ilmu tazkiyyah an nafs. Imam al Ghazali berkata: Belajar ilmu tauhid bisa dipelajari sebatas yang fardhu ‘ain, demikian juga dengan ilmu fiqh, sedang untuk ilmu tazkiyatun an nafs itu hendaknya dipelajari hingga sedalam-dalamnya,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ibadah dzahir memang lebih mudah dilakukan. Namun ujian terbesar seorang hamba adalah menjaga keikhlasan yang merupakan bagian dari ibadah batin.
“Ibadah dzahir itu lebih mudah dilakukan dan dijaga, namun menjaga keikhlasannya ini yang sulit, dan ini adalah bagian dari ibadah batin. Dan ibadah batin ini lebih sulit dan lebih membutuhkan kesungguhan dan perhatian khusus,” tegasnya.
Tgk. Safaini juga menyoroti penyakit hati yang banyak dialami masyarakat, yaitu sibuk memperhatikan kekurangan orang lain. Ia mencontohkan akhlak ulama terdahulu yang memiliki kelapangan hati dan saling menghargai keilmuan.
“Manusia ini banyak terjebak pada hal-hal terkait memperhatikan kekurangan orang lain. Ini menunjukkan kondisi hati yang berpenyakit. Ulama dahulu terbiasa saling mengakui keilmuan ulama lain. Menyuruh murid-muridnya untuk mencari ilmu kepada ulama lain tatkala usai belajar bersamanya. Itulah pertanda bersihnya hati. Maka beruntunglah orang yang senantiasa sibuk memperhatikan aib dirinya,” jelasnya.
Ia mengingatkan, sebaliknya orang yang sibuk mencari aib orang lain menunjukkan adanya sifat tercela dalam hatinya. Selain itu, sikap berlebihan dalam cinta dan benci juga dapat menutup mata dari kebenaran. Islam pun menganjurkan umat untuk menjaga lisan dengan saling memuji tanpa berlebihan.

“Adapun orang yang sibuk mencari aib orang lain itu menunjukkan adanya sifat hasad, iri, dan dengki pada hatinya. Cinta yang berlebihan kadang membuat mata tak mampu melihat kekurangan dari yang dicintainya. Sebaliknya kebencian yang berlebihan juga akan menutup mata dari melihat kebaikan pada yang dibencinya. Agama menganjurkan untuk saling memuji tanpa berlebihan. Dan termasuk kebaikan adalah menyenangkan hati saudara seiman,” katanya.
Di akhir tausiyah, Tgk. Safaini mengingatkan tentang bahaya kezhaliman dan dua tipe manusia yang merugi. Ia menyebut kezhaliman dapat mengantarkan kepada suul khatimah, sementara hati yang keras dan angan-angan panjang membuat seseorang lalai beramal.
“Setiap perbuatan yang membuat orang lain menjadi susah, maka itu disebut dzalim. Dzalim ini salah satu sebab orang bisa mendapatkan suul khatimah. Ada tipe manusia yang memiliki hati yang keras. Dimana cirinya adalah sulit menerima nasihat kebaikan. Berat untuk hadir di majelis ilmu atau majelis dzikir. Diantara manusia ada yang memiliki angan-angan yang panjang. Hidupnya hanya diisi dengan harap-harap cemas tanpa mau banyak beramal kebaikan. Akhirnya ia pun merugi dan tak memiliki bekal yang cukup untuk kembali,” pungkasnya.
Kegiatan Safda Malam Ahad ini merupakan salah satu program rutin Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh dalam rangka meningkatkan pemahaman keagamaan dan membina akhlak masyarakat di perkotaan. (nva)
Leave a Reply