BANDA ACEH – Ustadzah Aisyah Farid BSA menjadi pengisi utama dalam rangkaian Pekan Dakwah Kolaborasi yang digelar Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Syariat Islam, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut meliputi Ceramah Maulid Umum bagi Perempuan, Bedah Buku berjudul “Jangan Sedih”, serta dakwah dan pembinaan bagi warga binaan di Lapas Perempuan Lhoknga.
Agenda pertama berlangsung di Amel Convention Hall, Blang Oi, Banda Aceh, pukul 09.30–13.00 WIB. Ceramah Maulid Umum bagi Perempuan ini mengangkat tema “Perempuan Hebat, Keluarga Kuat, Generasi Berkualitas” dan khusus diikuti peserta perempuan.
Dalam ceramahnya, Ustadzah Aisyah menekankan peran sentral perempuan dalam membangun ketahanan keluarga.
“Perempuan hebat itu bukan perempuan yang bisa melakukan segalanya sendiri, tapi perempuan yang mampu menjaga imannya, menjaga lisannya, dan menjadikan rumahnya sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya,” ujar Ustadzah Aisyah.

Ia menambahkan, kekuatan generasi ditentukan dari kuatnya keluarga, dan kuatnya keluarga bermula dari perempuan yang berkualitas.
“Kalau perempuannya kuat agamanya, insyaAllah keluarganya kuat, kalau keluarganya kuat maka generasi yang lahir akan berkualitas. Kuncinya ada di perempuan,” katanya.
Agenda kedua berlangsung pada hari yang sama pukul 14.00 WIB di Aula Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Pada sesi tersebut Ustadzah Aisyah melakukan bedah buku karyanya berjudul “Jangan Sedih” yang diikuti 400 mahasiswi.
Dalam sesi itu, ia mengajak mahasiswi agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan serta membedakan antara percaya dan iman terhadap takdir.
“Sedih itu wajar, Nabi saja pernah berada di Amul Huzni, Tahun Kesedihan. Masalahnya bukan pada sedihnya, tapi kalau sedih itu berlarut-larut sampai bikin kita malas belajar, malas kerja, dan mengurung diri di kamar,” ujarnya.

Menurutnya, kesedihan yang berkepanjangan muncul karena banyak orang hanya berhenti pada tahap percaya terhadap takdir, namun belum sampai pada tahap mengimani. Padahal, iman kepada takdir menuntut kelapangan hati untuk menerima setiap ketetapan yang telah terjadi tanpa terus mempersoalkannya.
“Kenapa kita bisa hancur karena hal yang sudah terjadi? Karena kita mengira percaya dan beriman itu sama, padahal beda. Takdir itu bukan cuma dipercayai tapi harus diimani. Sesuatu yang sudah terjadi ibarat ketetapan yang telah final, tidak akan bisa kembali seperti semula, sehingga rugi besar jika kita terus menghabiskan energi dan emosi untuk meratapinya,” tambah Ustadzah Aisyah.
Rangkaian kegiatan akan berlanjut pada kamis besok pukul 08.30 WIB dengan agenda dakwah dan pembinaan bagi warga Lapas Perempuan Lhoknga sebagai bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang lebih luas dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Kehadiran Ustadzah Aisyah menjadi wujud nyata konsep Banda Aceh sebagai Kota Kolaborasi, di mana kolaborasi tidak hanya diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur dan pelayanan pemerintahan, tetapi juga dalam membangun mental spiritual, membina keluarga, dan menyiapkan generasi masa depan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. (nva)
Leave a Reply