Banda Aceh – Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh kembali menggelar Safari Dakwah (Safda) Malam di Masjid Baburrahmah, Kampung Kramat, Banda Aceh, sabtu (25/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Tgk. Dr. Fahmi Sofyan, S.Si., M.A. sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya ia mengisahkan kembali kisah Nabi Luth dan kaumnya sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Majelis ini dihadiri para jamaah setempat.
Tgk. Dr. Fahmi Sofyan menyampaikan bahwa para nabi dan rasul berjumlah 124.000 orang. Dari jumlah tersebut, yang diutus menjadi rasul ada 313 orang. Sementara dalam Al-Qur’an, nama nabi yang disebutkan secara jelas berjumlah 29 orang.
“Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menceritakan kisah-kisah para nabi dan kaum-kaum terdahulu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal,” ujarnya.
Ia lalu mengisahkan kedatangan tiga malaikat, yaitu Jibril, Mikail, dan Israfil, yang terlebih dahulu singgah di kediaman Nabi Ibrahim di Irak. Kedatangan mereka untuk menyampaikan kabar gembira bahwa Allah akan menganugerahkan anak, yaitu Ishak dan Ismail. Dari keturunan keduanya kemudian lahir para nabi dan rasul hingga nabi terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah itu, ketiga malaikat tersebut melanjutkan perjalanan ke kediaman Nabi Luth di salah satu kampung di Yordania dengan rupa laki-laki tampan. Kehadiran mereka membuat Nabi Luth bersedih karena mengetahui kaumnya adalah penyuka sesama jenis.
Tgk. Dr. Fahmi Sofyan menjelaskan bahwa istri Nabi Luth, Walihah, tidak melakukan dosa besar seperti zina. Namun ia memberi kode kepada kaumnya dengan menyalakan api pada malam hari sebagai tanda adanya tamu laki-laki.
“Ketika Nabi Luth bersedih dan bingung, para malaikat memperkenalkan diri dengan berkata, ‘Inni rasulu rabbika’, kami ini adalah utusan Tuhanmu. Mereka, kaummu, tidak akan bisa mengganggumu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa peristiwa itu menjadi bukti bahwa Allah menjaga hamba-hambanya yang saleh. Siapa pun yang menjaga aturan Allah, maka ia akan dijamin penjagaan dari Allah dari keburukan makhluk-Nya. Tawakkal yang sebenar-benarnya juga akan mendatangkan kecukupan rezeki dan kemudahan urusan.
“Allah telah berjanji dalam Surat Al-Insyirah bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menceritakan bahwa saat azab diturunkan, Nabi Luth diperintahkan untuk segera pergi tanpa menoleh ke belakang. Istri Nabi Luth ikut berlari, namun ketika azab turun ia menoleh ke belakang karena iba kepada kaumnya. Saat itulah batu dari atas menimpanya hingga binasa.
Tgk. Dr. Fahmi Sofyan memaparkan bahwa azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth berupa lemparan batu dari sijjil hingga mata mereka buta dan tubuh terbakar. Bumi tempat mereka tinggal kemudian diangkat oleh Malaikat Jibril hingga hampir ke langit, lalu dibalik sehingga bagian atas menjadi bawah, kemudian dijatuhkan kembali ke bumi dan disusul hujan batu sebagai hukuman rajam dari Allah.
“Inilah yang kemudian menjadi panduan hukum bagi pelaku sodom sejak masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini, yaitu membawa pelaku ke tempat tertinggi di suatu wilayah, lalu dilemparkan ke bawah dan diikuti dengan lemparan batu sebagai rajam,” jelasnya.
Di akhir tausiyah, ia mengajak jamaah untuk menjauhi dosa-dosa, khususnya perbuatan yang dilakukan kaum Nabi Luth. Minimal dengan membenci perbuatan maksiat tersebut dan tidak memberi ruang atau dukungan kepada pelakunya.
“Pelaku dosa tidak akan bisa lari dari azab Allah kecuali jika mereka bertobat dari kesalahan dan dosa-dosanya. Wallahu a’lam. Barakallahu fiikum,” pungkasnya.
Kegiatan Safari Dakwah ini merupakan agenda rutin Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh untuk memperkuat pemahaman agama dan menjaga moralitas masyarakat. (nva)
Leave a Reply